Are you Understand ??? [Media Muslim]



 Religions > Atheism > Are you Understand ??? [Media Muslim]

LINK TO THIS PAGE  


rating :  0   |  0


  Page 1 of 1

1

 
Topic: Religions > Atheism
User: "Zul Aja"
Date: 11 Nov 2006 05:22:01 PM
Object: Are you Understand ??? [Media Muslim]
Kematian !!!! Siap Menjemput @ www.mediamuslim.info
Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulang
tahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu
yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya
bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya
telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1
tahun pula jatah hidup kita berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah
hidup kita, kematian semakin mendekat.
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa
akan merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu
melainkan pada hari kiamat." (QS: Ali Imran: 185).
Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba.
Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah
ber-assalaamu'alaikum atau meimnta permisi pada orang yang akan ia
cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun
kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum kita selesai membaca tulisan
ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya. Padahal jika kita mati,
babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan
diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah
sudah.
Ketika 'Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata,
"Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup
senang di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di
mana aku tidak bisa lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di
malam hari."
Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal.
Al-Hasan berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di
belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya
bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya "
Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang
baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau
su'ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang
beriman kepada Alloh dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan
bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju
husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah
wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati
dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya
dalam taat pada Alloh. Rasululloh shallAllohu 'alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya, "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha
illaLlaah' pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka ia akan
masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari
ridha Alloh , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah
pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka ia akan masuk
surga. " (HR: Ahmad V/391).
Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, "Pada saat
kematian seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran
agar dapat beramal sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala
dosa hamba. Hamba bertaubat dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah."
Begitulah yang ia ucapkan terus menerus hingga ia meninggal dunia.
Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, "Apa yang
membuat Anda menangis?" Ia menjawab, "Demi Alloh, aku ingin menyambut
maut dengan tauba." Orang-orang berkata, "Lakukanlah, semoga Alloh
memberi rahmat kepadamu. "Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian
baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya
dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.
Mush'ab bercerita, "(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin
Awwam mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena
sakit- meminta untuk dituntun dengan berkata," Peganglah tanganku," Dia
masuk masjid bersama imam lalu ruku' sekali, setelah itu ia meninggal
dunia.
Sedangkan su'ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia
seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan
keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan
dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak
diampuni oleh Alloh subhanahu wa ta'ala. Sebab-sebab su'ul-khotimah
secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala
yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam agama yang tidak
pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui 'alaihi wa sallam,
menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi,
senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.
Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di
antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan
kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan,
"Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang
itu begitu...." dan begitu seterusnya hingga ia mati.
Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang
dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa
ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu,
"Naanana...naanana..." hingga ia mati.
Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai
berikut, "Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca
kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir
yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari
kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika
kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman
keras" Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, "Takutlah kalian dari
berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti
itu. "
Ada pula yang tanda-tanda su'ul-khotimahnya tampak setelah si malang
mati.
Syaikh Al-Qahthany bercerita, "Pernah aku memandikan mayat. Baru saja
kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam,
padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari
tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku
bertanya,"Mayat itu milikmukah ?" Ia jawab, "Ya," Aku bertanya lagi,
"Apa ia ayahmu?" Ia menjawab, "Ya." Aku bertanya, "Kenapa ayahmu itu
sampai begini?" Ia menjawab, "Sewaktu hidupnya ia tidak sholat." Maka
aku katakan kepadanya, " Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia !"
Ibnu Qayyim berkata, "Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany
bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah
untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia
meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang
telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya
seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan.
Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal
ini suatu kenyataan.
Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya
menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana
ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan
penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu."
Kita mohon perlindungan Alloh dari su'ul-khotimah. Kita tidak tahu
bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu
hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.
Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup
mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, "Aku
begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang
celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut."
Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya
berkata, " Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan
Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?"
Ketika Abu 'Athi'ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan.
Orang-orang bertanya, "Mengapa Anda ketakutan?" Dia menjawab,
"Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan
kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu. "Begitulah kehidupan
orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah terkenal kesalehannya,
namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.
Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa
takut akan su'ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik
agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su'ul-khotimah.
Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa
su'ul-khotimah, apa yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali
bin Abu Thalib radhiyAllohu 'anhu dari Nabi shallAllohu 'alaihi wa
sallam, beliau bersabda, "Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya,
maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka" Lalu ada
seorang shahabat yang bertanya, " Ya Rasululloh, kalau begitu apakah
tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita
dan kita tidak usah beramal ?" Rasululloh ShallAllohu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap
apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang
yang bahagia, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan
orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang
celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang
celaka. "Kemudian beliau membaca firman Alloh: "Adapun orang-orang yang
memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa
dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami
kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [QS: Al-Lail: 5-10]" (HR:
Al-Bukhary dan Muslim)
Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal
sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak
kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman,
Alloh akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita
juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh menghindarkan kita dari
jalan yang celaka.
Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang
jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan
menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah
sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat
bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di
majelis pengajian.
.

User: "josh"

Title: Re: Are you Understand ??? [Media Muslim] 28 Feb 2007 04:20:26 PM
Hoforix plesejr grat un redie jawr pojst un operie belouj ejs misadj bref me
rijtux. Hofix councorniu wnd im eorgumintiu jou ixsprisux, fa hofix dwtiu
sereis wnd im reludjniu a wr worjud. Ma tacie os ixsompil Crusteinutux. Im
Crusteiniu tajcij wnd 'Goud a louf' bid un loucuj wnd udh worjud ond un udh
ejnufors dhoround seix siniu noj a'dh louf a goud. Ot wr creatuie oux um,
semut ajt dimpore is unti infijrinmint houstijl or ojorwe ti findie fa isin.
Mijxt ajt oudwe wi etie oux onumiliu wijud, awr wi steorfie oux loc a foud,
awr wi cotjie duses anstou hofoudwe umejnutu noj. Prauj ti udh goud us ti
safie mud wi etie oux lijin oudut oct pwentlis. Oudwe sumplux foud fa
cretejriu oudhr oun wr plonut.
Ajusoj, mout counsuderie w hejminiu falij ti lufie tougidhr. Trijbil usut
udh word ti descrijbie hejminucijnd. Wr unstujctiu trijbil ledulij ti udh
destricsjn a wr worjud, fa, facux oux wajmie glojbil ond sjouitudj a
isinsjliu os wajtr on fejil, steortulwe wajriu ingijufulou'dh plonut.
Beleferiu hojpulij ait hofulij wa wuscie ti hifin, ijl udh rist a is
pirusjulwe oun udh cundr wd earth beie. A caws, im beleferiu wulij cunderiu
wi is. soj ajl indulut, ond jan noj nojulou ajt hejminiu isxustorij dejrie
mojmintiu un fletuie oun plonut enremeorcubil intijrulux oun udh idj a
goloxsu enremeorcubil ecwilux.
"Zul Aja" <dzulqornain_muslim@yahoo.com> wrote in message
news:1163287321.446004.220930@i42g2000cwa.googlegroups.com...

Kematian !!!! Siap Menjemput @ www.mediamuslim.info

Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulang
tahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu
yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya
bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya
telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1
tahun pula jatah hidup kita berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah
hidup kita, kematian semakin mendekat.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa
akan merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu
melainkan pada hari kiamat." (QS: Ali Imran: 185).

Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba.
Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah
ber-assalaamu'alaikum atau meimnta permisi pada orang yang akan ia
cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun
kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum kita selesai membaca tulisan
ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya. Padahal jika kita mati,
babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan
diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah
sudah.

Ketika 'Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata,
"Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup
senang di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di
mana aku tidak bisa lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di
malam hari."

Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal.
Al-Hasan berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di
belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya
bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya "

Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang
baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau
su'ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang
beriman kepada Alloh dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan
bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju
husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah
wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati
dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya
dalam taat pada Alloh. Rasululloh shallAllohu 'alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya, "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha
illaLlaah' pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka ia akan
masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari
ridha Alloh , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah
pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka ia akan masuk
surga. " (HR: Ahmad V/391).

Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, "Pada saat
kematian seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran
agar dapat beramal sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala
dosa hamba. Hamba bertaubat dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah."
Begitulah yang ia ucapkan terus menerus hingga ia meninggal dunia.

Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, "Apa yang
membuat Anda menangis?" Ia menjawab, "Demi Alloh, aku ingin menyambut
maut dengan tauba." Orang-orang berkata, "Lakukanlah, semoga Alloh
memberi rahmat kepadamu. "Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian
baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya
dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.

Mush'ab bercerita, "(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin
Awwam mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena
sakit- meminta untuk dituntun dengan berkata," Peganglah tanganku," Dia
masuk masjid bersama imam lalu ruku' sekali, setelah itu ia meninggal
dunia.

Sedangkan su'ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia
seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan
keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan
dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak
diampuni oleh Alloh subhanahu wa ta'ala. Sebab-sebab su'ul-khotimah
secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala
yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam agama yang tidak
pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui 'alaihi wa sallam,
menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi,
senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.

Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di
antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan
kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan,
"Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang
itu begitu...." dan begitu seterusnya hingga ia mati.

Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang
dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa
ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu,
"Naanana...naanana..." hingga ia mati.

Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai
berikut, "Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca
kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir
yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari
kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika
kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman
keras" Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, "Takutlah kalian dari
berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti
itu. "

Ada pula yang tanda-tanda su'ul-khotimahnya tampak setelah si malang
mati.

Syaikh Al-Qahthany bercerita, "Pernah aku memandikan mayat. Baru saja
kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam,
padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari
tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku
bertanya,"Mayat itu milikmukah ?" Ia jawab, "Ya," Aku bertanya lagi,
"Apa ia ayahmu?" Ia menjawab, "Ya." Aku bertanya, "Kenapa ayahmu itu
sampai begini?" Ia menjawab, "Sewaktu hidupnya ia tidak sholat." Maka
aku katakan kepadanya, " Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia !"

Ibnu Qayyim berkata, "Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany
bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah
untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia
meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang
telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya
seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan.
Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal
ini suatu kenyataan.

Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya
menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana
ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan
penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu."

Kita mohon perlindungan Alloh dari su'ul-khotimah. Kita tidak tahu
bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu
hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.

Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup
mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, "Aku
begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang
celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut."

Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya
berkata, " Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan
Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?"

Ketika Abu 'Athi'ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan.
Orang-orang bertanya, "Mengapa Anda ketakutan?" Dia menjawab,
"Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan
kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu. "Begitulah kehidupan
orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah terkenal kesalehannya,
namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa
takut akan su'ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik
agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su'ul-khotimah.

Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa
su'ul-khotimah, apa yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali
bin Abu Thalib radhiyAllohu 'anhu dari Nabi shallAllohu 'alaihi wa
sallam, beliau bersabda, "Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya,
maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka" Lalu ada
seorang shahabat yang bertanya, " Ya Rasululloh, kalau begitu apakah
tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita
dan kita tidak usah beramal ?" Rasululloh ShallAllohu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap
apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang
yang bahagia, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan
orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang
celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang
celaka. "Kemudian beliau membaca firman Alloh: "Adapun orang-orang yang
memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa
dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami
kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [QS: Al-Lail: 5-10]" (HR:
Al-Bukhary dan Muslim)

Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal
sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak
kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman,
Alloh akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita
juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh menghindarkan kita dari
jalan yang celaka.

Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang
jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan
menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah
sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat
bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di
majelis pengajian.

.

User: "Nosterill"

Title: Re: Are you Understand ??? [Media Muslim] 13 Nov 2006 05:12:31 AM
Zul Aja wrote:

Kematian !!!! Siap Menjemput @ www.mediamuslim.info

Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika etc. etc.

No, I am not Understand.
.


  Page 1 of 1

1

 


Related Articles
2 More GI's Killed by Bush's Big Lie. Where Are You Chickenhawks Now?
You Would Think The Secularists Know What We Are Talking About -III-
Mission Accomplished! 441st GI Killed by Bush's Big Lie. Where Are All You ***** Chickenhawk Traitors?
You atheists are like little toys
599th GI Killed by Bush's Big Lie. Where Are All You ***** Chickenhawks Now?
Re: Are you a good person?
OT: 'Reason' and 'Stand Up Fight Back': Are You Listening, Senator Kerry?
Yang Mocks NeoCon "Mullah Fuqu'ar"'s Manhood And Gets Away With It (What Are You Gonna Do About It, Little ***** NeoCon Chickenhawk?)
1418th GI Killed By AWOL's Big Lie. Where Are All You ***** NeoCon Chickenhawks Again?
WHY ARE YOU AFRAID TO LOOK IN TOWNSVILLE ?
OT: are you superstitious quiz
I want to ask you the most important question of your life. The question is: Are you saved? It is not a question of how good you are, nor if you are a church member, but are you saved? Are you sure you will go to Heaven when you die? The reason some
Re: I want to ask you the most important question of your life. The question is: Are you saved? It is not a question of how good you are, nor if you are a church member, but are you saved? Are you sure you will go to Heaven when you die? The reason s
Bush's Hollowed Out Army, Part III (Where Are you ***** NeoCon Chickenhawks Now?)
Re: You are a Monkey 2
 

NEWER

pg.3585     pg.2749     pg.2106     pg.1612     pg.1232     pg.940     pg.716     pg.544     pg.412     pg.311     pg.234     pg.175     pg.130     pg.96     pg.70     pg.50     pg.35     pg.24     pg.16     pg.10     pg.6     pg.3     pg.1

OLDER